Senin, 03 Oktober 2011

Terpaan Rindu

Malam itu langit begitu sunyi, tak satupun cahaya bintang yang menerangi lamunanku tentangmu.
Dengan senyum, ku berbagi akan kebahagiaan di lini masa suatu online sosial media, tanpa sadar aku menyampaikan pesan untuk kekasihku...
"Mungkin hawa dingin malam ini adalah sebagian rindumu yang kau hembuskan."
Itu hanya hembusan angin yang ku rasakan saat menantikan pesan pendek darimu, dengan terus membaca bait demi bait yang ada dalam layar ponsel, terlihat kau membalas tulisanku dengan begitu indah...
"Ketika dingin memelukmu, ku pastikan malaikat menghembuskan hangat nafasnya untukmu."
Begitu senangnya rongga dadaku hingga pikiran ini menari-nari kesana-kemari, ketika kau merasakan rindu yang tak tersurat, aku merasa bahwa kau kekasihku yang akan rindu ini.
Tanpa memberi jedah, kau lanjutkan pesan rindu itu melalui lukisan kata-kata... 
"Bila asaku terbawa angin, semoga kau menemukannya dan menjadikan nyata untukku." 
Kemudian kau melanjutkannya lagi...
"Kamu adalah hujan yang ku tunggu sejak lama. Membasahi setiap helai rambutku. Dan hatiku yang telah mengering."
Aku terenyuh ketika meresapi setiap huruf yang kau rangkai secara acak hingga menjadi indah dalam lamunanku, tanpa ampun, aku pun membalas setiap rindu yang telah kau sampaikan...
"Mencoba membasahi dengan segala doa dan usaha, merasuki pori-porimu dengan rindu, hingga menjadi aku yang selalui ada hanya untukmu."

Begitu sempurna ciptaan Tuhan tentang kamu, kau menemani setiap hari-hariku dengan sabar, tak jarang kita bertengkar hanya untuk belajar menciptakan romantisme kasih sayang.
Ku lanjutkan lamunanku dengan tatapan cerah kepada langit, hingga kau menyampaikan...
"Wajah itu terus menari dalam anganku. Selalu menyimpulkan sebaris senyum saat aku membutuhkannya."
Tanpa sadar aku terharu hingga tertawa tanpa henti-hentinya, bila saja jarak kita begitu dekat, tanpa meminta ijinmu aku sudah memelukmu untuk merasakan hangatnya getaran rindu antara kita berdua.
Anganku membimbing jari-jari yang tak berdosa untuk menuliskan...
"Menebar senyum seluas pandangan, merasuki pikiran hingga merusak angan-angan. Itulah cara terkejam rindu tanpa paksaan."
Terdengar nada pesan memasuki inbox yang sudah ku tunggu. Kau menanyakan akan kesehatanku dan keberadaanku, setelah aku membalasnya, kau melanjutkan lukisan kata-katamu dalam lini masa...
"Udaraku penuh. Aku tak kuasa menghirupnya saat ku sadar, disana penuh hembusan nafasmu."
Balasku...
"Paru-paruku makin terasa sempit, didalamnya tersimpan jutaan rindumu yang menyesaki tanpa cela, aku menghirup setiap hembusan rindumu."
" Diamku itu jelmaan rindu yang menggebu, saat kalimat mulai terucap, saat itulah aku melampiaskannya untukmu."
Lama ku menanti balasan rindu serta pesan pendekmu, ternyata tak kunjung kau balas. Ternyata kau terlelap dengan lelah akan rindu yang tak terbatas ini.
Aku bersyukur akan takdir Tuhan yang menyatukan kita, kita saling mengenal lama tapi perasaan saling tak mengenal, hingga akhirnya tiba... Rindu kita yang menyatukannya.



Ku tuliskan ini semua, agar kenangan antara kita tak terhapus begitu saja dengan tumpukan rindu yang  tiada hentinya.
Untukmu Mooie, Kekasih yang akan selalu kucinta karena Tuhan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar