Kamis, 27 Oktober 2011

Listrik Go Blog



Siang ini gw baru update blog yang ga penting ini lagi. Sebenernya ide buat nulis sih udah banyak mulai dari beberapa minggu yang lalu. Sayangnya pendukung buat melampiasakan hasrat ini yang kaga ada. Oke langsung aja sebelum gw mulai curhat macem” tentang semua beban hidup ini. *elap umbel*

Hari ini Hari Blogger dan Hari Listrik Nasional yes? Gw yang udah lupa mulai ngeblog ama mainan listrik lama aja kaga pernah tau. At this time Twitter save my brain (again). *kesetrum sambil ngetik*

Mulai detik ini gw bakal bikin perubahan. Merubah cara pikir dan juga cara mengkhayal yang lebih kontemporer demi kemaslahatan masa depan (bangsa) gw. Entah apa maksud dari kalimat sebelumnya.

Harusnya siang ini gw (yang lagi berada di warnet) ngerjain Skrips(h)i(it) dengan lancar tanpa kemacetan sedikitpun. Tapi beberapa hal telah merubah segalanya, untuk kali ini bukan negara api penyebabnya.

Tadi pagi menjelang siang gw baca timeline Twitter kok banyak yang bicarain Go Blog, gw lantas mikir emangnya siapa yang Go Blog? Jangan” ada yang di-bully abis”an tadi subuh. Usut punya usut sampe kusut, ternyata hari ini tanggal 27 Oktober 2011 merupakan hari bagi para Blogger se-Tanah-Air. Tapi bukan hanya itu, Listrik (yang kadang padam) juga ikut ngerayain lho.

Tanpa Listrik, apalah arti Blogger. Dan tanpa Blogger, apalah arti masa depan. Vice Versa

Barusan gw lirik bahan-bahan buat ngerjain Skrips(h)i(it), tapi ngepost buat blog yang ga penting ini lebih menggairahkan. Gw sadar gw udah salah, niat yang mulia siang ini sudah tercemari oleh ide-ide nan dramatis hingga akhirnya file Skrips(h)i(it) harus gw tutup lagi. *nyengir*

Ujungnya, gw harus menyudahi postingan kali ini. Semoga tulisan ini menambah rezeki kita semuanya. AMIIINNN...!!!!!


^Nb:
Yang sabar yah kalo punya masalah, ndak semuanya disalurkan dengan energi negatif. Gw nulis ini juga bukan tanpa adanya masalah. Tapi masalah yang membuat kita membuktikan siapa jati diri kita sebenarnya. Oiya, kalimat barusan itu gw tulis gara” kesurupan Mario Teguh.

Senin, 03 Oktober 2011

Terpaan Rindu

Malam itu langit begitu sunyi, tak satupun cahaya bintang yang menerangi lamunanku tentangmu.
Dengan senyum, ku berbagi akan kebahagiaan di lini masa suatu online sosial media, tanpa sadar aku menyampaikan pesan untuk kekasihku...
"Mungkin hawa dingin malam ini adalah sebagian rindumu yang kau hembuskan."
Itu hanya hembusan angin yang ku rasakan saat menantikan pesan pendek darimu, dengan terus membaca bait demi bait yang ada dalam layar ponsel, terlihat kau membalas tulisanku dengan begitu indah...
"Ketika dingin memelukmu, ku pastikan malaikat menghembuskan hangat nafasnya untukmu."
Begitu senangnya rongga dadaku hingga pikiran ini menari-nari kesana-kemari, ketika kau merasakan rindu yang tak tersurat, aku merasa bahwa kau kekasihku yang akan rindu ini.
Tanpa memberi jedah, kau lanjutkan pesan rindu itu melalui lukisan kata-kata... 
"Bila asaku terbawa angin, semoga kau menemukannya dan menjadikan nyata untukku." 
Kemudian kau melanjutkannya lagi...
"Kamu adalah hujan yang ku tunggu sejak lama. Membasahi setiap helai rambutku. Dan hatiku yang telah mengering."
Aku terenyuh ketika meresapi setiap huruf yang kau rangkai secara acak hingga menjadi indah dalam lamunanku, tanpa ampun, aku pun membalas setiap rindu yang telah kau sampaikan...
"Mencoba membasahi dengan segala doa dan usaha, merasuki pori-porimu dengan rindu, hingga menjadi aku yang selalui ada hanya untukmu."

Begitu sempurna ciptaan Tuhan tentang kamu, kau menemani setiap hari-hariku dengan sabar, tak jarang kita bertengkar hanya untuk belajar menciptakan romantisme kasih sayang.
Ku lanjutkan lamunanku dengan tatapan cerah kepada langit, hingga kau menyampaikan...
"Wajah itu terus menari dalam anganku. Selalu menyimpulkan sebaris senyum saat aku membutuhkannya."
Tanpa sadar aku terharu hingga tertawa tanpa henti-hentinya, bila saja jarak kita begitu dekat, tanpa meminta ijinmu aku sudah memelukmu untuk merasakan hangatnya getaran rindu antara kita berdua.
Anganku membimbing jari-jari yang tak berdosa untuk menuliskan...
"Menebar senyum seluas pandangan, merasuki pikiran hingga merusak angan-angan. Itulah cara terkejam rindu tanpa paksaan."
Terdengar nada pesan memasuki inbox yang sudah ku tunggu. Kau menanyakan akan kesehatanku dan keberadaanku, setelah aku membalasnya, kau melanjutkan lukisan kata-katamu dalam lini masa...
"Udaraku penuh. Aku tak kuasa menghirupnya saat ku sadar, disana penuh hembusan nafasmu."
Balasku...
"Paru-paruku makin terasa sempit, didalamnya tersimpan jutaan rindumu yang menyesaki tanpa cela, aku menghirup setiap hembusan rindumu."
" Diamku itu jelmaan rindu yang menggebu, saat kalimat mulai terucap, saat itulah aku melampiaskannya untukmu."
Lama ku menanti balasan rindu serta pesan pendekmu, ternyata tak kunjung kau balas. Ternyata kau terlelap dengan lelah akan rindu yang tak terbatas ini.
Aku bersyukur akan takdir Tuhan yang menyatukan kita, kita saling mengenal lama tapi perasaan saling tak mengenal, hingga akhirnya tiba... Rindu kita yang menyatukannya.



Ku tuliskan ini semua, agar kenangan antara kita tak terhapus begitu saja dengan tumpukan rindu yang  tiada hentinya.
Untukmu Mooie, Kekasih yang akan selalu kucinta karena Tuhan.